Pemanfaatan FGR ( First Generation Resources )

Hasil gambar untuk welcome

Hallo semua… ^^

Dalam cermi kali ini Dewi akan membahas manfaat FGR ( First Generation Resources ). Sejauh ini sudah banyak yang menggunakan FGR ( First Generation Resources ) sebagai sistem scan plagiarisme selain itu FGR ( First Generation Resources ) juga sudah di terapkan dalam CCIT Journal dan Widuri Wayang. Dewi akan menjabarkan manfaat FGR ( First Generation Resources ), sebagai berikut :

Dalam CCIT Journal

  1. Membantu mempercepat proses dalam melakukan proses scan plagiat pada jurnal yang sudah di submit oleh penulis
  2. memudahkan dalam melakukan scan plagiat sehingga tidak harus menggunakan sistem lain
  3. Hasil dari scan plagiat pada jurnal akurat dan terjamin kualitasnya sehingga membantu pihak CCIT Journal maupun penulis untuk melindungi sebuah karya ilmiah dari kejahatan plagiarisme.
  4. Dengan adanya FGR ( First Generation Resources ) di dalam CCIT Journal dapat membantu untuk menerapkan prosedur dalam submit jurnal di dalam CCIT Journal yaitu “Scan jurnal yang sudah di download ke FGR ( First Generation Resources ), Apabila hasil scan di atas 50% tidak akan diproses, tetapi apabila dibawah 50% akan dilanjutkan“, dan hal dapat dilihat dalam prosedur CCIT Journal dapat dilihat DISINI.

Dalam Widuri Wayang

  1. Membantu pihak Widuri Wayang untuk mengetahui tingkat plagiarisme pada artikel dan laporan KKP/Skripsi/TA yang ada dalam Widuri
  2. Dengan adanya FGR ( First Generation Resources ) di dalam Widuri Wayang membuat artikel maupun laporan KKP/Skripsi/TA yang di upload ke dalam Widuri terhindar dari kejahatan plagiarisme
  3. membantu pihak Widuri Wayang dalam meningkatkan kualitas artikel maupun laporan KKP/Skripsi/TA yang terdapat dalam Widuri

Peraturan scan plagiat pada karya ilmiah sudah terdapat dalam peraturan DIKTI yaitu ” sebelum suatu karya ilmiah atau hasil penelitian diloloskan dan mereka memiliki takaran penilaian sampai berupa % masih diijinkan (lazimnya tak lebih 10%)” dan dapat dlihat DISINI oleh sebab itu FGR ( First Generation Resources ) sangattt bermanfaat sekali bagi suatu wadah atau tempat untuk submit Jurnal seperti CCIT Journal dan juga bermanfaat bagi Widuri Wayang yaitu tempat untuk upload sebuah laporan KKP/Skripsi/TA sehingga dapat mengikuti sesuai aturan yang sudah berlaku. Selain FGR ( First Generation Resources ) sudah diterapkan ke dalam CCIT Journal dan Widuri Wayang, FGR ( First Generation Resources ) juga diterapkan dalam TMJ ( Technomedia Journal ) dan dalam hal ini TMJ ( Technomedia Journal ) mendapatkan manfaat dari adanya FGR ( First Generation Resources ) seperti manfaat yang dirasakan oleh pihak CCIT Journal dan Widuri Wayang. berikut manfaat yang dirasakan TMJ ( Technomedia Journal ) :

Dalam TMJ ( Technomedia Journal )

  1. Mempermudah dalam proses scan plagiat pada jurnal yang sudah di submit oleh penulis
  2. Mempermudah pihak TMJ ( Technomedia Journal ) dalam mengetahui tingkat plagiarisme yang ada pada jurnal yang sudah di scan
  3. Mempermudah Pihak TMJ ( Technomedia Journal ) dalam meningkatkan kualitas jurnal yang sudah di submit oleh pihak penulis
  4. Mempermudah pihak TMJ ( Technomedia Journal ) dalam melindungi karya ilmiah seperti jurnal dari tindak kejahatan plagiarisme.

Sekian cermi yang Dewi buat tentang manfaat FGR ( First Generation Resources ), kurang lebihnya mohon maaf ^^

Terima kasih ^_^

Hasil gambar untuk with love

Views All Time
Views All Time
89
Views Today
Views Today
1
92 Total Views 1 Views Today

6 Responses

  1. Agar seorang peneliti tidak menjadi salah satu “pencuri” karya orang lain, setiap peneliti perlu memahami konsep plagiarisme. Definisi plagiarisme yaitu penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan dan pendapat sendiri (Wikipedia, 2008). Definisi yang lain menyebutkan plagiarisme adalah aksi menyalin atau meminjam hasil kerja atau ide tanpa memberikan pengakuan kepada penulis asli. Mahasiswa yang menulis esai, laporan atau thesis maupun disertasi harus mencantumkan sumber, seperti buku, artikel jurnal, pada daftar referensi yang mereka tambahkan pada hasil karya mereka (Swansea University, 2008).
    Bentuk yang paling serius dalam plagiarisme yaitu dengan melakukan penulisan dengan mengutip secara langsung tanpa melakukan perubahan yang signifikan dari hasil karya orang lain. Praktek tersebut dinamakan dengan word-for-word plagiarism (Brian, 1984). Selain bertentangan dengan kode etik akademik, plagiarisme dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator (Wikipedia, 2008). Beberapa alasan kenapa setiap peneliti perlu memperhatikan isu plagiarisme dengan baik, yaitu sebagai berikut (University of Chicago Davis, 2006):
    a. Dengan melakukan plagiarisme berarti melakukan kecurangan kepada diri sendiri.
    Dengan melakukan plagiarisme seseorang tidak belajar mengungkapkan pendapat dalam kata-kata sendiri, dan peneliti tidak akan mendapatkan feedback yang lebih spesifik dari instruktur penelitian dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kemampuan individual peneliti.
    b. Merupakan perbuatan tidak jujur dan menyebabkan misleading bagi orang lain. Dengan melakukan plagiarisme, pembaca akan salah merepresentasikan sebuah karya kepada yang sebenarnya bukan hasil karya dari orang yang melakukan plagiarisme.
    c. Plagiarisme melanggar Kode Etik Akademik (Code of Conduct Academic).
    d. Plagiarisme mengurangi nilai dari karya orang lain. Dengan memakai dan mengumpulkan kerja orang lain sebagai pekerjaan sendiri berarti hal tersebut bersifat tidak adil kepada orang lain yang melakukan pekerjaan tersebut.
    e. Plagiarisme melanggar hak milik orang lain (property right). Tanpa memberikan penghargaan kepada pemilik ide, pelanggaran hak cipta akan berakibat denda bahkan bisa lebih buruk dari itu.
    f. Plagiarisme akan berdampak buruk pada reputasi lembaga tempat peneliti berada.
    Berdasarkan pengalaman membuat artikel baik artikel ilmiah populer maupun artikel hasil penelitian baik bidang pendidikan, manajemen dan pendidikan matematika dapat disimpulkan bahwa batas toleransi bahwa artikel dikatakan mengandung unsur plagiarisme, apabila lebih dari 10 persen diambil dari hasil karya orang lain. Hal ini sejalan dengan edaran kemenristek dikti melalui kopertis yang bisa dilihat pada link berikut: http://www.kopertis12.or.id/2011/09/23/seputar-plagiat-dan-autoplagiat.html
    jadi supaya aman baik jangka pendek maupun jangka panjang, maka saran saya maksimum 10 persen saja mengingat sekarang lagi banyak permasalahan yang berhubungan dengan isu plagiarisme.
    terima kasih

  2. Dengan adanya FGR, sangat membantu sekali dalam pengecekan artikel yang masuk dalam jurnal CCIT.
    Dengan menggunakan FGR, dapat diketahui tingkat plagiat yang dilakukan penulis.
    Adanya FGR, penulis yaitu dosen dan mahasiswa dapat mengetahui plagiat yang dilakukan.

    Sangat berguna sekali untuk dosen dan mahasiswa dalam membuat artikel pada jurnal

  3. Dengan adanya FGR, yang pastinya dapat mengetahui hasil scan yang diperoleh pada laporan, apalagi sekarang di widuri laporannya sudah masuk ketahap review dan dapat di scan juga melalui FGR ini, sehingga dapat membantu Widuri mennghasilkan Artikel yang lebih baik untuk dikonsumsi oleh hal layak umum ^^

  4. Dengan Adanya FGR ini sangat membantu sekali dalam proses jurnal yang akan di review di Technomedia Journal. Sehingga, dapat mendeteksi berapa % tingkat plagiat masing2 artikel. Jadi bisa lebih mempermudah kinerja proses jurnal hingga mendapatkan kualitas artikel yang baik 🙂

  5. Dengan adanya FGR khususnya terdapat pada Technomedia Journal dapat membantu pihak Technoomedia Journal dalam melakukan tahap scan plagiat dan pengerjaanya cepat sehingga tidak memakan banyak waktu.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.