Tanabata

Hai Teman-teman TimUR

Sudah tau belum sih tentang Memo Pohon Cinta atau The Wishing Tree?

Jadi, Pohon Memo Cinta atau The Wishing Tree ini adalah Sebuah Replika pohon tempat kita menggantungkan Harapan/Permohonan, jadi kita akan menuliskan Sebuah Harapan atau Permohonan kita pada sebuah Kertas lalu Mengantungkannya pada Pohon menggunakan tali. Masih belum paham juga? yuk, Lihat Disini!

Sedikit curhat nih Teman-teman, jadi Rin itu suka banget sama hal-hal yang berbau Jejepangan. Bisa dibilang bahwa Jepang itu adalah Negara impiannya Rin, dari dulu Rin pengen banget nih berkunjung ke negeri Sakura ini. Salah satu yang buat Rin kagum adalah tradisinya, eits… tapi jangan salah sangka jika Rin tidak kagum dengan tradisi di Indonesia, Rin tetap cinta kok sama Indonesia, cieeee… Tapi, Teman-teman tau kan gak sih jika Jepang juga punya banyak sekali tradisi yang dirayakan setiap momen tertentu? Nah disini Rin akan sharing tentang salah satu tradisi di Jepang yang ada kaitannya dengan Pohon Memo Cinta atau The Wishing Tree ini yaitu Tanabata.

Pernah dengar tentang Tanabata?

Tanabata atau Festival Bintang adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim panas musim panas di Jepang yang jatuh pada hari ke 7 bulan 7 (7 Juli).

Legenda

Legenda Tanabata di Jepang mengisahkan bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dalam rasi bintang Lyra sebagai Orihime, putri Dewa Langit yang pandai menenun. Bintang Altair yang berada di rasi bintang Aquila dikisahkan sebagai sebagai penggembala rajin bernama Hikoboshi . Walau awalnya tidak mendapat restu, kegigihan Hikoboshi untuk menikahi Orihime meluluhkan hati Dewa langit.

Sayang, setelah menjadi suami istri, pasangan ini lebih sering bersenang-senang dan bermalas-malasan sehingga Orihime tidak lagi menenun dan Hikoboshi tidak lagi menggembala. Dewa Langit yang murka memisahkan keduanya dengan Amanogawa (sungai Amano/galaksi Bima Sakti) di antara mereka. Pasangan ini hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam hari ke-7 bulan ke-7 setelah mereka bekerja keras selama setahun. Ketika mencoba untuk saling berjumpa ternyata sungai tanpa jembatan itu sulit dilalui sehingga Orihime menangis. Sekawanan burung kasasagi mendengar tangisan ini dan membentangkan sayap untuk membentuk jembatan. Namun, jika hari hujan, burung-burung itu tidak akan datang dan pasangan ini terpaksa menunggu hingga setahun ke depan.

Ada versi yang menceritakan agar hujan tidak turun pada tanggal tersebut, sejak semalam sebelumnya pasangan ini memohon kepada Dewa Bintang dengan menuliskan sajak-sajak harapan diatas secarik kertas warna warni yang disebut ‘Tanzaku‘ untuk digantungkan di batang pohon bambu. Batang pohon bambu ini dipercaya akan tumbuh menjulang ke langit sehingga permohonan mereka pun akan terbaca oleh Dewa Bintang.

Itulah legenda asal-usul perayaan Tanabata di Jepang. Pada awalnya, masyarakat merayakan Tanabata untuk turut berdoa agar malam hari tersebut langit cerah sehingga Orihime dan Hikoboshi bisa bertemu.

Namun, seiring berjalannya waktu, tampaknya masyarakat lebih mementingkan kebiasaan pasangan kekasih yang menuliskan harapan-harapan mereka di atas secarik kertas berwarna warni dan menggantungkannya di batang pohon bambu dengan harapan doa mereka terkabul.

 

Penulisan dan penggantungan secarik kertas harapan ini berakhir ketika ‘Obon Matsuri‘ (Festival Arwah) dimulai pada bulan Agustus. Pohon bambu yang sudah digantungi banyak kertas harapan, umumnya akan dilarung ke sungai sebagai perlambang kemalangan atau nasib buruk yang hanyut terbawa oleh air dan doa yang akan terkabul.

Perayaan Tanabata ini dilakukan di malam ke-6 bulan ke-7, atau pagi di hari ke-7 bulan ke-7. Sebagian besar upacara dimulai setelah tengah malam (pukul 1 pagi) di hari ke-7 bulan ke-7. Legenda Jepang kuno ini dipercaya jika 7 Juli dini hari, bintang Altair, Vega dan galaksi Bima Sakti, adalah bintang-bintang yang paling mudah di lihat dengan jelas.

Festival Tanabata dimeriahkan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku atau secarik kertas berwarna-warni. Tradisi ini khas Jepang dan sudah ada sejak zaman Edo. Kertas tanzaku terdiri dari 5 warna (hijau, merah, kuning, putih, dan hitam). Permohonan yang dituliskan pada tanzaku bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang menulis. Kertas-kertas tanzaku yang berisi berbagai macam permohonan diikatkan di ranting daun bambu membentuk pohon harapan di hari ke-6 bulan ke-7.

Perayaan Tanabata yang paling terkenal ada di kota Sendai, yang terkenal dengan Festival Sendai Tanabata.

Selain di Jepang Tanabata juga dirayakan di Tiongkok dan Korea. Di Tiongkok perayaan ini disebut Qi Xi untuk mendoakan kemahiran wanita dalam menenun.

Views All Time
Views All Time
108
Views Today
Views Today
1
111 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.